Ayah Kembalilah Mengasuh Anakmu!

Anak-anak kita:

  1. menerima sekitar 426 kritikan, kalimat negatif, label dari orang dewasa di sekitarnya (orang tua dan guru).
  2. Sementara anak-anak ini hanya menerima sekitar 70 kalimat positif dan pujian.
  3. Kurang dari 3% waktu yang dipergunakan untuk memberikan penghargaan, humor atau kata-kata  “wow” atau “hebat”.
  4. Kurang dari 1% dalam satu hari yang melibatkan anak berbagi pendapat atau menyelesaikan masalah bersama.

Apa makna dari paparan fakta dan data di atas bagi kita, para ayah? Salah satunya adalah meminta kita untuk kembali mengasuh dan mendidik anak-anak kita sendiri meski waktu dan kondisi yang sangat sempit. Kita diharapkan tidak lagi menggantungkan tanggungjawab pendidikan dan pengasuhan anak kepada pihak ketiga. Kita diminta untuk kembali mengoptimalkan peran ayah dalam perkembangan anak-anak kita. Kita, para ayah, diharapkan seperti Luqman mendidik dan mengawasi anak-anaknya.

Kalau peran ke–Ayah–an ini tidak kita optimalkan, berbagai malapetaka akan datang menghampiri anak-anak kita. Anak-anak akan kehilangan jati dirinya, kehilangan suri teladan dalam hidup, menjadi korban narkoba dan sangat mudah menjadi pelaku seks bebas karena minimnya rasa percaya diri. Rasa percaya diri, suri teladan dan karakter yang baik itu sebagian besar harusnya didapatkan anak dari ayah-ayahnya.

Para ayah yang dimuliakan Allah. Mengapa orang tua ( khususnya ayah ) perlu mengasuh dan mendidik anak-anak kita? Ada beribu alasan, diantaranya adalah:

  1. Anak kita memiliki otak jumlahnya milyaran yang siap untuk diisi. Tugas orang tua ( khususnya ayah ) yang mengisinya dengan asupan yang baik sesuai dengan Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad saw
  2. Masa depan anak tergantung dari apa yang di dapat selama masa usia dini. Kalau selama usia dini mereka dibesarkan oleh ayahnya secara optimal dan benar maka mereka akan tumbuh menjadi manusia yang benar
  3. Ada masa-masa dimana anak harus dilatih pelajaran dan keterampilan tertentu pada masa-masa tertentu. Pelatih terbaik adalah ayah bukan orang-orang dewasa lain yang tidak memiliki hubungan emosional
  4. Anak tidak tahu apa yang baik untuk dirinya sendiri karena masih kurang pengalaman (anak selalu memilih sesuatu yang enak dan menyenangkan atau mungkin yang berbahaya). Orang tua khususnya ayahlah yang harusnya menjadi pembimbing terbaik dan utama mereka
  5. Anak membutuhkan banyak tantangan dan pengalaman dalam hidupnya untuk dapat memahami dunia dan memiliki akhlak yang baik
  6. Anak perlu diarahkan untuk memahami keunikan dirinya, kelebihan dan kekurangannya juga memiliki motivasi dari dalam dirinya.

Ayo ayah, marilah kita kembali dengan ikhlas mengasuh dan mendidik anak-anak kita. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang paling laik dan paling hebat mengasuh dan mendidik anak-anak kita selain orang tua, lebih khusus ayahnya sendiri. Bukan guru, bukan tetangga, bukan saudara. Mereka hanya membantu kita saja ( sekali lagi, hanya membantu ) dalam mengasuh dan mendidik anak-anak.

Mari kita tumpahkan jiwa dan raga kita untuk masa depan anak-anak agar lebih baik. Mari kita pelajari cara mengasuh dan mendidik anak-anak kita secara patut. Mari kita simpan amarah, caci maki, pukulan, cubitan, omelan, teriakan…. mari kita ganti dengan pelukan, ciuman, pujian. Mari bergabung dengan para ayah yang telah bertekad akan mengasuh dan mendidik anak-anaknya sesuai dengan tahap perkembangan anak-anak.

*diforward dari lembar Kiat Jadi Ayah Hebat terbitan Lembaga Sahabat Ayah [edisi 001]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: