Kiat Ayah Bersabar dalam Mendidik Anak

Perkiraan Usia:

0 – 2 tahun:

  • bayi adalah sekumpulan refleks
  • belum ada perhatian dengan gerakannya sendiri
  • tergantung pada orang dewasa dan lingkungan untuk stimulasi
  • tidak dapat berpikir tentang benda yang tidak kelihatan
  • mulai ada kesadaran hubungan antara gerakan diri, benda dan lingkungan
  • di akhir tahap ini bayi sudah memahami “object permanence”- dapat menyimpan gambar atau kejadian dalam ingatan

3 – 7 tahun

  • mulai mengembangkan penggunaan bahasa dan berpikir dalam bentuk simbolik
  • sedikit memahami hubungan sebab akibat
  • sulit melihat sudut pandang orang lain
  • berpikir bahwa benda-benda memiliki perasaan seperti manusia
  • tidak mengerti bahwa satu benda akan tetap sama jumlahnya meskipun bentuknya berbeda
  • belum memiliki kemampuan berpikir logis. Misalnya anak berpikir bahwa bulan mengikuti ke mana saja anak pergi
  • di akhir tahap ini anak mulai menunjukkan kemampuan untuk berpikir logis- berpikir tidak hanya sebatas pada persepsi

8 – 11 tahun

  • mampu menyelesaikan masalah kongkrit (hands on) secara logis
  • memahami konsep moral yang melatarbelakangi aturan, keinginan dan keadilan
  • di akhir tahap ini anak sudah menguasai berpikir logis

11 tahun – remaja

  • dapat memahami masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang
  • dapat berpikir dengan pikirannya dan perasaannya sendiri
  • di akhir tahap ini, remaja sudah mengembangkan kemampuan berpikir hipotetis dan deduktif
  • mampu menyelesaikan masalah majemuk secara logis
  • mampu berpikir seperti ilmuwan (scientist)
  • mulai tertarik masalah sosial

Ayah yang budiman, dulu ketika anak-anak belum lahir, kita berjanji akan menjadi orang tua idaman. Orang tua yang sabar dalam memahami tingkah laku anak. Orang tua yang tahan banting meski berhari-hari kurang tidur. Tenang dan arif menghadapi lengkingan tangis ketika kemauan anak-anak tidak terpenuhi. Tetap tersenyum menangani perkelahian antara mereka meski dengan alasan yang tidak jelas.

Tapi, ketika anak-anak lahir dan terus tumbuhkembang dengan semua tingkah lakunya, entah kenapa kita mengingkari semua janji tersebut. Kita selalu terjebak untuk bersikap negatif pada anak. Kita menjadi ayah yang cerewet, penuntut, tukang kritik, dan kadang-kadang benci pada anak sendiri. Kita menjelma menjadi ayah yang suka hitung-hitungan. Ayah pemarah. Ayah ringan tangan. Gampang memukul, mendorong, menendang. Ayah yang tanpa beban memvonis, merendahkan bahkan mencaci maki anak.

Tapi ayah, dunia belum kiamat. Tidak ada kata terlambat. Anak-anak masih sangat membutuhkan ayah kembali mengasuh dan mendidiknya dengan sabar. Menemaninya belajar, bermain meskipun ayah memilik waktu yang sangat sedikit.

Berikut ini bebarapa kiat yang sangat memungkin ayah cobakan di rumah.

  1. Berpikirlah positif. Tapi menurut sebagian pakar, sebelum berpikir positif hendaknya ayah sudah melatih berperasaan positif sebelum bertemu dengan anak-anak.
    Yang harus ayah lakukan: Kalau ayah menanggapi sebuah masalah anak-anak maka sebaiknya carilah asal permasalahannya atau kembangkanlah berbagai kemungkinan sampai kita menemukan asal permasalahannya.
  2. Merubah tanpa kritik pedas. Jikalau ayah ingin merubah salah satu tingkah laku anak, maka sebaiknya hindarilah mengkritik dengan tajam. Bedakanlah mana anak mana tingkah laku anak. Sebab kritikan pedas tanpa jelas alasannya akan berpotensi menghancurkan rasa percaya diri anak.
    Yang harus ayah lakukan: Hindarkan meng-counter tingkah laku secara langsung. Segeralah mencari titik temu dengan menamai perasaan yang sedang dialami anak kita terlebih dahulu.
  3. Sabar membutuhkan latihan. Tentulah bersikap sabar dalam mendidik anak tidak bisa langsung jadi. Memerlukan latihan dan latihan. Bisa jadi kita gagal hari ini, tapi belum tentu besok. Anak-anak tidak melihat hasilnya tapi mereka merasakan bahwa ayahnya terus berusaha untuk sabar.
    Yang harus ayah lakukan: Sabar dimulai dari sikap. Jika kita seorang perfeksionis, maka sekarang waktunya untuk meninggalkan itu. Sadari bahwa rumah tidak akan kembali normal, bersih, dan rapi (semua tertata ditempatnya) sampai anak-anak tumbuh dewasa. Pandanglah kenakalan anak sebagai fase normal dan akan segera berlalu.
  4. Lihat kenakalan anak dengan santai. Ini bukan berarti kita membiarkan anak berkelakuan tidak baik. Maksudnya, sebaiknya ayah menghindari merespon langsung dengan negatif dan tegang setiap ada tingkah laku anak-anak yang tidak baik (kecuali yang sangat darurat)
    Yang harus ayah lakukan: Biarkan anak menjadi anak dan biarkan mereka mengerjakan apa yang sepantasnya dilakukan anak-anak ( yang sesuai dengan tahap perkembangannya ). Kuncinya, jangan stress ketika melihat hal-hal yang mengerikan terjadi. Sikap memahami dan menerima dunia anak-anak akan mempermudah kita untuk selalu sabar.
  5. Contohkan kesabaran pada anak-anak. Anak-anak adalah cermin yang sangat jujur. Like father like son.Kalau ayah tidak berlaku sabar dalam mengasuh anak-anak maka anak-anak akan mencontoh untuk masa depan mereka. Maka lakukanlah sabar dengan tindakan bukan dengan omongan.
    Yang harus ayah lakukan: Senang dan ringan meminta maaf kepada anak kalau ayah salah adalah sikap yang segera dicontoh oleh anak.
  6. Ikhlas. Ini adalah pangkal dari semuanya. Meskipun berat, sebaiknya ayah terus melatih meyakinkan diri bahwa ayah ikhlas dengan amanah anak dari Allah meski seperti apapun bentuk anak kita.
    Yang harus ayah lakukan: Teruslah memelihara shalat tahajud dan sering bermuhasabah ( evaluasi diri ) kepada Allah secara jujur. Katakanlah semua halangan dan hambatan dalam mengasuh dan mendidik anak-anak. Insya Allah akan terus menambah keikhlasan ayah.

*diforward dari lembar Kiat Jadi Ayah Hebat terbitan Lembaga Sahabat Ayah [edisi 002]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: