Kang Yoto dan Enam Setan

Kang Yoto. Begitu ia membahasakan diri. Ia rektor Universitas Muhammadiyah, memimpin partai di tingkat provinsi, dan juga menjadi komisaris maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia. Begitu mencalonkan diri sebagai bupati Bojonegoro, Suyoto—nama lengkapnya—lebih suka dipanggil dengan sebutan itu. “Biar akrab,” katanya.

Sebutan Kang Yoto memang terasa akrab. Serupa dengan Pakde Karwo, gubernur Jawa Timur. ‘Kang’ berarti ‘abang’ atau kakak laki-laki. Sebutan ini masih lazim di masyarakat Sunda. Di Jawa, masyarakat tempat Suyoto berakar, sebutan ‘Kang’ sudah semakin menipis. Praktis cuma tersisa di perdesaan. Dengan nama Kang Yoto, pengakrabannya ke masyarakat terbukti efektif. Ia terpilih jadi bupati. Padahal, ia calonunderdog alias pupuk bawang.

Kang Yoto bukan sekadar akrab dengan masyarakat. Ia juga akrab dengan persoalan yang melilit rakyat. Berkapasitas intelektual kuat dan berjam terbang tinggi dalam organisasi ataupun manajemen, ia bukan bupati biasa. Bojonegoro yang selama ini lebih dikenal karena selalu jadi korban banjir berhasil ia kembangkan. Di kancah sepak bola, ia membuat Persibo masuk kompetisi teratas nasional dan siap bersaing dengan kesebelasan mapan, seperti Persipura, Persib, atau Persija.

Lebih mendasar dari urusan bola, ia mampu membuat terobosan di bidang pertanian. Selama bertahun-tahun, petani Bojonegoro yang banyak menanam tembakau gagal mendapat penghasilan yang baik. Kang Yoto turun mencermati bagian demi bagian. Mulai dari persoalan benih, pengolahan lahan, proses budi daya, penanganan setelah panen, hingga distribusi dan pemasaran. Ia mengurai simpul demi simpul. Hasilnya, secara keseluruhan, petani setempat mendapat peningkatan penghasilan sekitar Rp 90 miliar.

Namun, Kang Yoto juga bukan superman yang serbabisa. Ada hal yang dipandangnya sangat sulit untuk dihadapi. “Mengembangkan pola pikir dan sikap mental masyarakat,” katanya. Pada hampir semua masalah yang ia hadapi, akar persoalannya selalu menyangkut pola pikir dan sikap mental. “Ada enam setan yang membuat masyarakat tidak maju,” katanya. Perang melawan enam setan itulah yang ia sebut pekerjaan terbesarnya. Kalau keenamnya takluk, seluruh persoalan akan lebih mudah ditangani.

Keenam setan itu harus dijauhi. Pertama, memandang hidup adalah urusan gampang. Tak perlu serius menghadapinya. Kedua, percaya dan suka jalan pintas dan tak mau mengikuti proses wajar. Ketiga, kebiasaan ngrasani atau omong-omong di belakang, menjelekkan orang lain. Keempat, iri hati. Tidak suka melihat orang lain sukses. Kelima, tak percaya diri bisa meraih sukses. Keenam, suka meminta dan diberi.

Enam setan itu harus dibasmi. Sebaliknya, enam jiwa manusia harus dibangun. Pertama, hidup tidak mudah, sulit, dan menantang. Taklukkan! Kedua, jangan percaya jalan pintas. Gigihlah berusaha secara benar. Ketiga, ngrasani itu hina. Pentingkan belajar, berpikirlah positif. Keempat, jauhi iri hati. Senanglah melihat orang lain senang. Kelima, hentikan tak percaya diri. Yakinlah semua orang bisa sukses. Keenam, malulah ‘meminta’ dan ‘diberi’. Jadikan diri suka memberi.

Enam setan itu cuma ditemui Kang Yoto dan bukan spesifik ada di Bojonegoro. Siapa pun kita yang peduli pada karakter umat dan bangsa akan selalu bertemu dengan setan-setan itu. Jadi, mengapa kita tidak sekalian menjadi seperti Kang Yoto: bergerak bersama menumpas enam setan itu. Tentu, harus dimulai dari enam setan yang ada pada diri sendiri, keluarga, serta lingkungan terdekat.

Oleh: Zaim Uchrowi
Republika OnLine (http://koran.republika.co.id/koran/28/115693/Kang_Yoto_dan_Enam_Setan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: